Kompas.com-Foto Citizen, sebelum & sesudah jebol.
27 Maret 2009, dini hari….


Belajar dari Situ Gintung
Oleh Imam A. Sadisun
SITU atau dalam istilah yang lebih umum juga dikenal sebagai danau
berukuran relatif kecil, dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan.
Situ-situ ini mendapatkan pasokan air baik dari curah hujan, mata air,
atau bahkan sungai-sungai yang terdapat di sekitarnya. Beberapa situ
memiliki saluran keluar (outlet) yang terkadang juga dapat terbentuk
secara alamiah atau merupakan konstruksi buatan, yaitu dengan membangun
bendungan kecil atau tanggul.
Situ Gintung di wilayah Cirendeu, Tangerang, Banten, pada mulanya
merupakan situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul pada situ ini
dibangun sejak zaman Pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu pada 1933
(Detik.com, 27/3). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan
Seribu yang dibuat Turkandi dkk. (1992), Situ Gintung berada pada satuan
batuan endapan volkanik.
Berdasarkan jenis materialnya, tanggul Situ Gintung berupa urugan tanah
yang relatif homogen (earth dam). Pada umumnya, tanggul jenis ini terdiri
dari satu jenis tanah kedap air yang dipadatkan, yang seharusnya
dilengkapi dengan sistem penyalir horizontal (horizontal drain) atau
cerobong (chimney drain). Sistem penyalir merupakan bagian yang penting
dalam konstruksi tanggul, terutama berfungsi menurunkan garis aliran
rembesan di dalam tubuh tanggul.
Ketidakstabilan tanggul disebabkan berbagai faktor, yang dapat memainkan
peranannya secara terpisah maupun gabungan. Salah satu faktor adalah erosi
bawah permukaan di bagian hilir tanggul atau erosi buluh (piping erosion).
Tanah yang umumnya kohesif hasil pelapukan endapan volkanik, cenderung
mudah mengalami proses ini. Erosi ini kadang diawali dengan retaknya
lereng tanggul di bagian hilir, disusul dengan runtuhnya badan tanggul.
Runtuhnya badan tanggul bisa juga dipengaruhi kemungkinan rusaknya tanah
bawah (subsoil) akibat erosi buluh.
Bahaya akibat keruntuhan tanggul, akan diperparah apabila kondisi genangan
air di situ terlalu tinggi (overtopping) atau bahkan melimpas tanggul.
Lebih dari itu, volume air yang melimpah tentunya akan menjadi ancaman
yang lebih besar setelah badan tanggul runtuh.
Hal-hal tersebut sangat mungkin terjadi di tanggul Situ Gintung, yang
mengakibatkan jebolnya badan tanggul, Jumat (27/3) dini hari. Sebelum
tanggul runtuh, banyak yang melaporkan adanya retakan-retakan di badan
tanggul. Kemungkinan besar, ini berkaitan dengan proses erosi buluh dan
penurunan sebagian badan bendungan.
Hujan deras yang terjadi beberapa hari sebelum jebolnya tanggul Situ
Gintung, merupakan penyebab utama naiknya genangan air di situ tersebut.
Situ dengan luas genangan diperkirakan mencapai 21 ha itu dan dengan
volume air mencapai 1,5 juta meter kubik, telah memuntahkan sebagian besar
isinya setelah badan tanggul jebol. Tak salah bila banyak korban bencana,
yang menyatakan banjir bandang ini seakan tsunami kecil. Bentuk morfologi
permukaan tanah yang tidak rata di bagian hilir, sangat memengaruhi
larinya banjir bandang dan juga penyebarannya.
Sistem pemantauan
Dengan umur yang sangat tua, selayaknya Situ Gintung mendapatkan perhatian
yang cukup. Tidak hanya sebatas faktor kapasitas dan kualitas air yang
mengisi situ tersebut, tetapi menyangkut kestabilan badan tanggulnya.
Apalagi, Situ Gintung ini merupakan salah satu alternatif tempat tujuan
wisata yang tak jauh dari ibu kota negara, maka jaminan keamanan kepada
para wisatawan pun harus diberikan.
Keamanan tanggul harus selalu dievaluasi. Adanya potensi keruntuhan badan
tanggul, seharusnya dapat diidentifikasi secara dini. Usaha-usaha
pencegahan ini sangat penting dan sekecil apapun gejala terhadap
kemungkinan kejadian keruntuhan, badan tanggul harus selalu
diperhitungkan. Metode lain yang cukup penting, yaitu pemantauan atau
monitoring.
Gejala-gejala adanya ketidakstabilan lereng bendungan umumnya dapat
dipantau secara visual. Ciri-ciri umum yang seringkali dijumpai adalah
rembesan atau bahkan mata air di bagian sisi hilir kaki tanggul secara
liar. Mata air ini lambat laun bisa berkembang dan akan mengakibatkan
proses erosi bawah permukaan. Proses perkembangan erosi bawah permukaan
kadang-kadang disertai dengan retaknya tanggul, yang akhirnya
mengakibatkan runtuhnya seluruh badan tanggul.
Seiring dengan semakin berkembangnya teknik instrumentasi, bukannya tidak
mungkin memasang alat pantau di setiap tanggul atau bendungan. Dari jenis
alat pantau yang hanya digunakan untuk mengukur perubahan level genangan
air seperti AWLR/automatic water level recording, hingga jenis alat pantau
yang dapat mendeteksi pergeseran pada permukaan ataupun di dalam tubuh
tanggul (seperti halnya ekstensometer) . Hampir seluruh alat pantau
tersebut dapat dikontrol dari jarak jauh secara real-time.
Mitigasi bencana
Dengan telah berkembang kawasan pemukiman yang relatif cukup padat di
bagian hilir tanggul Situ Gintung, sebenarnya sangat disayangkan mengapa
hal ini terjadi. Dengan kasatnya potensi risiko bencana yang ada,
usaha-usaha mitigasi bencana terhadap kemungkinan jebolnya tanggul Situ
Gintung seharusnya dilakukan.
Mitigasi dapat dilakukan secara struktural, misalnya dengan memberikan
tambahan sistem perkuatan tanggul, ataupun secara nonstruktural, antara
lain dengan melakukan berbagai sosialisasi dan arahan yang tepat tentang
potensi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi di sekitar kita.
Mitigasi secara umum dilakukan sebelum bencana tiba, seringkali tidak
menentu atau bahkan lebih cepat dari waktu-waktu yang diperkirakan, bahkan
terkadang memiliki intensitas yang jauh lebih besar dari perkirakan
semula.
Belajar dari peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, sepertinya bencana
ini sama sekali tidak disangka-sangka kejadiannya. Meskipun ada warga
mengetahui indikasi ketidakstabilan tanggul, tetapi tindakan kesiapsiagaan
yang dilakukannya belum terancang dan terorganisasi dengan baik. Yang
perlu mendapat perhatian di sini adalah dengan adanya peristiwa jebolnya
tanggul Situ Gintung, masyarakat di berbagai wilayah tanah air tinggal di
sekitar tanggul atau bendungan (khususnya berada di bagian hilir), mulai
resah. Apakah hal ini akan dibiarkan terus menerus berlangsung? ***
Penulis, Anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB – ITB dan Ketua
Divisi Geologi Teknik – IAGI.
May 4, 2009 at 2:04 am
bagimana kalo kita bersama-sama mengantisipasi peristiwa situ gintung yang lain bisa terjadi lagi.
misalnya saja semua ahli geologi teknik atau geologi terapan dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan ulang tanggul-tanggul atau semua hal yang nantinnya bisa membahayakan masyarakat.jadi kita bisa bertindak sebelum semuanya terjadi…
trimakasih…
begitu usulan saya.